Makan Bersama

Bereksperimen Dengan Telur

bereksperimen-dengan-telur

Hari itu, saya rasa Tuhan sedang ingin memberi kejutan combo. Setelah hal-hal menyenangkan datang berurutan, sekonyong-konyong Salman Aristo (37 tahun) muncul di hadapan saya. Penulis skenario film favorit saya. Siapa anak muda yang tak kenal karyanya, seperti Jomblo (2007), Laskar Pelangi (2008), dan Sang Penari (2011). Ada juga Ayat-Ayat Cinta (2007) yang skenarionya ditulis berdampingan dengan istri tercinta, Gina S. Noer.

Ternyata, hari itu Aris, demikian sapaan akrabnya, sedang ada perlu dengan SALTO Film, rumah produksi film Sang Penari, yang kantornya satu lokasi dengan Rasamasa. Narasumber semenarik ini mustahil dibiarkan pulang tanpa diwawancarai, pikir saya.

Sambil menemani Aris menikmati gado-gado, siang itu kami ngobrol ngalor-ngidul soal makanan. Tak butuh waktu lama untuk tahu Aris adalah seorang foodie. Berulang kali dia berucap,“Gue suka banget…” makanan ini dan itu. Dari bebek goreng, terong balado, asam padeh, perkedel ala Manado, kuah satai padang, sampai rendang daun. Mendengarkan kembali rekaman obrolan kami membuat saya jadi lapar.

Anda hobi masak. Biasanya masak apa?

Macam-macam. Bisa dibilang saya yang masak di rumah. Masih yang simpel-simpel, sih,karena anak-anak masih kecil. Yang pertama (Biru Langit Fatiha) umur 5 tahun, yang kecil (Akar Randu Furqan Argiputra) 2,5 tahun. Mereka sangat suka kalau saya masak nasi goreng atau mi, karena saya suka sekali eksperimen dengan bahan masakan. Kadang nasi goreng dicampur tobiko, kadang dicampur tuna.

Sejak kapan hobi masak?

Satu ketika, saya masih SMP dan Mama belum dapat asisten rumah tangga. Mama harus ikut diklat pendidikan guru kurang lebih 10 hari. Karenanya, praktis Mama tidak bisa masak untuk makan siang. Akhirnya saya masak sendiri. Saya ingat saat itu masakan yang dicoba pertama kali adalah sayur asem. Tukang sayur di sekitar rumah punya kebiasaan membungkus bahan sayur asem jadi satu paket siap beli. Saat mencoba masakan sendiri, saya terkejut sekaligus senang. Rasanya enak!

Terus apa lagi yang dimasak waktu itu?

Scrambled egg pakai susu dan keju, resepnya Lydia Kandou di tabloid Nova! Saya sampai sekarang masih ingat. Halaman resep itu saya taruh di samping kompor dan saya nyobain resepnya beneran. Pada titik itu saya merasa kenikmatan memasak dan bereksperimen. Waktu itu ada corned beef di meja makan dan entah dapat pikiran dari mana saya campurkan ke kocokan kuning telurnya.

Saat itu saya senang sekali dengan masakan saya. Di situ gue ngedapetin enjoy-nya.

Sampai sekarang telur menjadi bahan favorit yang paling sering dicampur-campur.

Pengalaman apa yang paling menarik seputar masakan?

Saat berlebaran di Payakumbuh, setiap rumah yang didatangi pasti menyediakan jamuan lezat . Tidak bisa ditawar lagi, setiap orang yang mampir harus makan.

Dulu, sewaktu belum tahu strateginya, di rumah pertama saya makan banyak, di rumah kedua juga begitu. Sampai di rumah ketiga, saya menangis karena sudah tidak kuat makan, tapi harus makan. Akhirnya saya minta pulang ke rumah kakek, namun Mama dan Papa masih bertandang ke rumah-rumah lain. Tapi lebaran selanjutnya, saya sudah tahu strateginya!

Sempat belajar masak dari Mama?

Datang dari keluarga Minang yang suka masak, saya tidak asing dengan dapur. Waktu kecil, saya dan Papa sering bantu Mama peras santan untuk rendang, atau bantu isi beras buat ketupat.

Budaya masak dan makan menurut saya sangat dekat dengan orang Minang.

Saya pernah lihat sendiri saat pulang kampung. Ada masalah yang membuat kedua pihak bersitegang, jika dipicu sedikit lagi pasti sudah jadi keributan. Tapi karena dijamu makanan,enggak jadi ributnya. Perut kenyang, pikiran tenang,...

Selain tweet @fiksimini-nya yang khas, Aris kerap ngetwit soal eksperimen masaknya lewat akun @salmanaristo—kadang bersama anak sulung perempuannya, Biru. Saya lantas bertanya apakah sudah ada tawaran menulis skenario tentang masakan, Aris sontak menjawab dengan antusias, “Belum,... Pengin banget padahal, belum kesampaian!”