Dari Redaksi

Hore, Pecah Telur

hore-pecah-telur

Memasak di dapur menjadi sesuatu yang menantang dan wajib saya lakukan. Apalagi, saya termasuk ibu yang cukup detail terhadap makanan Sasha, anak perempuan saya. Jauh sebelum MPASI-nya dimulai, saya mempersiapkan diri dengan menggali banyak informasi mengenai makanan awal pendukung ASI terbaik, dari internet, buku maupun ibu saya.

Persiapan menuju MPASI pun saya lakukan dengan disiplin. Dari pemilihan alat dan bahan masakan, kombinasi menu mingguan, sampai jadwal pemberian buah dan sayur yang tidak boleh dicampur dalam menu hariannya. Artinya, buah harus bersama buah dan sayur harus bersama sayur. Acara memasak makanan anak saya selalu jadi rutinitas cukup menantang, karena di balik persiapan itu saya juga belajar banyak mengenai keseimbangan gizi untuknya dan juga saya, yang masih memberikan ASI eksklusif.

Memasak makanan untuk Sasha selalu jadi prioritas yang memberi semangat.

Buat saya, tumbuh kembang anak pada usia emasnya sangat ditentukan oleh makanan yang dikonsumsi.

Makanan yang diberikan tidak harus mahal, apalagi bergaya kebarat-baratan. Cukup makanan rumahan, dengan bahan baku yang tersedia setiap saat di dapur dan mudah dimasak. Salah satunya adalah telur, yang dengan segala kebaikan vitamin yang dikandungnya selalu mengisi lemari es saya.

Saya mulai memberikan olahan telur, di samping buah dan sayuran, ketika Sasha melewati usia 10 bulan dan mulai makan makanan lumat. Biasanya saya pilih telur ayam kampung, meski telur ayam eropa juga tidak masalah buat saya. Telur rebus saya berikan dari kuningnya terlebih dulu. Awalnya saya haluskan dan berikan sedikit demi sedikit. Perbedaan tekstur telur dari puree buah dan sayur yang biasa dikecap Sasha terlihat lewat mimik seringainya, namun ia cepat bertoleransi. Saya tetap berpegang pada prinsip 3-day rule.Setelah tiga hari observasi tidak tampak tanda alergi telur, saya lalu makin bebas berkreasi mengolah makanan terbaik buatnya. Omelet dan sup telur selalu disantap dengan lahap tanpa usaha membujuk yang berlebihan.

Waktu berlalu sangat cepat, Sasha pun memasuki usia 21 bulan. Kemandiriannya kian terbentuk dan ia juga mulai memahami sebuah perayaan.

Tahun ini adalah tahun kedua baginya merayakan Paskah. Ah! Saya jadi ingat satu agenda sekolah minggunya, yang tiada lain tiada bukan adalah hide-and-seek telur paskah!

Melihat anak saya bermain adonan telur di mangkuk dan menggelontorkannya ke baju hingga menetes ke lantai, dan meninggalkan bekas jejak pada setiap pijakan kakinya selalu membuat saya tertawa lebar. Apalagi saat melihat mimik mungilnya yang innocent itu. Tak sabar saya ingin memberi tahu guru sekolah minggunya, supaya salah satu telur yang dicari Sasha itu tak perlu direbus. Biarkan telur mentah diberikan untuk digenggamnya hingga pecah! Sungguh saya ingin mengabadikan momen bersejarah ini.