Dari Redaksi

Nasi Bungkus Juara

nasi-bungkus-juara
Ada satu jenis makanan yang amat tidak menarik bagi saya yang sedang hamil muda saat ini. Padahal, sebelumnya makanan itu selalu saya rindukan.

Setiap berada pada trimester pertama kehamilan, sepertinya sudah jadi default dalam sistem hormon saya untuk menjauhi nasi. Bentuk, warna, dan aromanya begitu tidak menarik saat ini sehingga saya tidak ingin mencicipi nasi dulu sampai perasaan saya normal kembali. Sebagai trik untuk merangsang rasa ngiler, setiap menyendokkan nasi ke dalam mulut, saya selalu menggali memori seputar nasi. Paling juara buat saya, memori nasi bungkus. Nasi bungkus yang saya maksud itu rasanya aduhai, tiada banding.

Sewaktu SMP, saya bersekolah di sekolah swasta Methodist di Medan yang siswanya dominan keturunan Tionghoa. Setiap mengerjakan tugas kelompok di rumah salah seorang teman, ibu teman saya yang menjaga toko kelontong di lantai satu akan berteriak pada kami yang berkumpul di lantai dua. “Lu orang [kalian] ada berapa? Wa [saya] mau belikan makan sore,” tanyanya. Kami lalu buru-buru menghitung dan menjawabnya serempak. Tak lama, lipatan daun pisang yang menggelembung di atas nampan dihidangkan dan kami pun menyerbu nasi bungkus panas yang semerbak itu tanpa basa-basi.

Pindah ke Jogja setelah lulus SMA, rasa rindu pada nasi bungkus, saya coba lampiaskan dengan memesan nasi bungkus di rumah makan sekitar kampus. Awalnya hati saya girang saat gumpalan daun panas itu mendarat di atas nampan saya. Tapi, ketika membukanya, ternyata saya tidak menemukan apa yang saya harapkan. Saat bercerita pada abang saya di malam harinya, dia tertawa. Saya pun jadi tahu bahwa yang namanya nasi bungkus di Jawa itu berbeda dan lebih spesifik. Ada nasi uduk, nasi kuning, nasi rames, nasi kucing, nasi pecel, atau nasi bakar. Dari tampilannya sih, nasi-nasi itu memang dibungkus dengan daun semua. Namun, buat saya, tidak ada yang bisa menandingi nasi bungkus khas Medan.

Nasi bungkus khas Medan itu benar-benar spesial dan punya ceritanya sendiri. Alkisah, para petani tembakau di sepanjang tanah Deli selalu membawa nasi bungkus sebagai bekal pengganjal perut, karena makanan ini tidak mudah basi. Di ladang tembakau, para petani acap berpapasan dengan pejuang kemerdekaan yang beristirahat dan kelaparan. Nasi bungkus pun menjadi “amunisi” dari rakyat sipil untuk para pejuang, agar tetap kuat melawan penjajah.

Sekarang di Medan, pedagang nasi bungkus banyak dijumpai di jalan-jalan protokol, di dekat sekolah, kantor pemerintahan, percetakan besar, rumah ibadah besar, maupun di perumahan elit. Alasannya? Pembelinya lebih ramai dibandingkan dengan di daerah pinggiran. Selain itu, daerah di jalan-jalan utama juga diisi dengan toko-toko kelontong, yang sejak masa kerajaan Deli dan di bawah pemerintahan Belanda dihuni oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Maka, tak heran jika setiap acara tugas kelompok di rumah teman, nasi bungkus selalu jadi panganan yang dihidangkan.

Seiring waktu, lauk-pauk dalam nasi bungkus itu menjadi kian beragam. Salah satu yang membekas dalam ingatan saya adalah nasi bungkus panas diguyur kuah rendang, dicampur dada ayam kampung balado utuh, telur dadar setengah matang, terung dan kacang panjang tauco. Ditambah dengan sejumput acar timun, sejumput bihun goreng, sejumput daun ubi rebus dengan sambal rendang, serta sambal cabai merah mentah. Saat berpadu dengan aroma daun pembungkus, nasi itu benar-benar menggoda indera penciuman saya. Porsinya yang sangat banyak , jelas memanjakan penikmatnya.

Kenangan akan detail komposisi nasi bungkus juara saya itu tak ayal membuat saya berselera menghabiskan makan saya siang itu. Semoga ketika selera makan saya sudah kembali menggila, saya bisa mendarat di tanah kelahiran dan menyantap nasi bungkus Medan.