Cerita Resep

Soto Mi

soto-mi

Berawal dari kebiasaan anak-anaknya yang tidak menghabiskan makanan, Tita Witoelar memodifikasi resep dari majalah menjadi makanan khas keluarga

Resep soto mi ini bagaimana terjadinya bu?

Dulu saya sering kesal sama anak-anak, kalau makan, makanannya tidak habis. Saat itu saya masih tinggal di Simprug dan harus berbelanja sendiri. Akhirnya saya panggil kedua anak saya. Saya bilang kepada mereka, kalau kebiasaan tidak menghabiskan makanan itu tindakan mubazir karena masih banyak yang kurang beruntung. Sepertinya anak-anak saya mulai berembuk tentang menu yang mereka mau makan agar makanan tidak bersisa. Anak-anak malah mendatangi saya dengan menyodorkan majalah Femina. Mereka bilang, “Ma, sepertinya makanan ini enak.” Saya lihat dan saya bilang, “Oh, kalau ini kalian mau makan, Mama bikinin.” Itulah awal mula soto mi ini.

Resep dari majalah tersebut, asli atau sudah Ibu modifikasi?

Tidak terlalu banyak, hanya beberapa yang saya modifikasi.

Apa saja modifikasi yang dilakukan terhadap resep ini?

Kalau resep asli menggunakan tetelan, saya ganti dengan daging sengkel. Saya seram melihat tumpukan lemak tetelan, lagi pula itu tidak sehat. Harganya memang lebih mahal tapi sepadan. Lalu, penggunaan mi kuning basah. Mencari mi basah bukan perkara gampang dan saya tidak tahu kualitas mi basah yang dijual. Jadi, saya ganti dengan mi telur.

Bagaimana dengan irisan kolnya? Apakah menggunakan kol segar?

Kalau resep asli, daun kol hanya dicuci lalu diiris, sebelum dimasukkan kedalam soto. Kalau padas soto mi saya, kol direbus sebentar. Gunanya untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang masih tertinggal. Bau daun kol juga bisa diminimalisir dengan teknik ini.

Apakah soto mi ini menjadi resep andalan Ibu? 

Soto mi ini akhirnya menjadi makanan wajib keluarga kami. Makanan ini juga sering saya sajikan ketika ada tarawih, hajatan, atau pengajian. Orang sering meminta resep soto mi ini. Itu menjadi kepuasaan tersendiri bagi saya.

Selain resep soto mi ini, apakah ada buku resep yang menjadi andalan Ibu?

Ada satu buku resep yang dulu menemani hari-hari saya selama di Balikpapan. Buku itu buatan luar negeri. Dulu suami saya sempat ditugaskan ke Balikpapan, saat itu sekitar tahun 70-an dan keadaan di Balikpapan sangat susah. Barang-barang pokok harus diambil dari Surabaya atau Jakarta. Saat disana, saya ditempa keadaan dan kondisi untuk bisa memasak makanan dengan bahan makanan yang ada. Jadi,banyak terjadi perubahan resep yang saya lakukan dari buku resep itu. Saya jadi terampil modifikasi resep. Sekarang sih, masanya kemudahan teknologi, jadi tinggal mencari saja di internet.

Apakah ibu memang sudah hobi memasak dari dulu?

Justru dulu saya tidak bisa memasak sama sekali. Saya tidak pernah terjun masak kedapur. Ketika menikah, saya baru mulai belajar memasak. Dosen saya dulu pernah bilang, perempuan itu tidak harus disuruh-suruh untuk belajar memasak. Nanti,ketika ia menemukan pasangan yang menurut dia pantas untuk dibuatkan makanan, ia akan belajar dengan sendirinya. Saya setuju. Rasa cinta terhadap suami dan anak-anak-lah yang membuat saya ingin menyajikan masakan yang terbaik.