Dari Redaksi

Yang Renyah Di Piala Dunia

yang-renyah-di-piala-dunia

Hidup saya dikelilingi oleh para pria pecinta sepak bola. Saya pun punya cara sendiri untuk bisa terlibat di dunia ini, meski tak gemar menonton.

Bapak dan kedua abang saya pecinta sepak bola. Sejak saya kecil hingga dewasa, ketiga lelaki di rumah saya itu selalu setia menonton pertandingan sepak bola. Sementara saya tidak termasuk penggemar olahraga yang satu ini.

Sesekali saya ikut menonton, karena suami saya yang juga suka sepak bola itu minta ditemani. Tapi tetap saja, saya tidak menemukan ketertarikan. Tak seperti suami yang selalu setia menonton kapan pun jam tayangnya, baik tengah malam atau subuh. Begitu juga liputan yang berhubungan dengan sepak bola, seperti dokumentasi pelatih dan pemain,... bahkan game-nya di Playstation. Semua dijabani. Belum ditambah dengan jadwal main sepak bola mingguan di lapangan bersama teman kantor, tetangga sekompleks, teman kuliah seangkatan, hingga teman semarga. Seperti kurang cukup, dalam pembicaraan sehari-hari ia acap menyelipkan seputar laga para pemain sepak bola. Saya cuma bisa manggut-manggut, sementara kata-kata suami terurai menjadi huruf demi huruf, kemudian menguap bersama angin,..dan menghilang.

Lain lagi dengan teman saya, Yolanda. Perempuan lajang yang berkarier di dunia perbankan selama hampir 30 tahun ini tak pernah absen dari acara live sepak bola. Mimpinya adalah menikahi salah satu pemain dari klub Belanda. Kalau tak dapat pemain junior, yang senior pun bukan masalah, katanya. Saya hanya bisa terpingkal saat mendengarnya berucap seputar impiannya itu dengan begitu yakin. Harapan itu masih belum tergoyahkan, karena sejak beberapa tahun lalu ia rajin bertandang ke Belanda untuk menonton pertandingan sepak bola di sana. Wah, Yolanda memang tidak main-main!

Acara sepak bola itu selalu memicu adrenalin. Baik bagi pemain yang beraksi di lapangan maupun penonton di lapangan atau di rumah. Berbeda dengan olahraga lain, sepak bola memang punya keunikan tersendiri.

“Yang mendebarkan itu bukan peristiwa golnya, tapi prosesnya,” celetuk suami ketika saya menonton pertandingan dengan tatapan kosong pada suatu waktu.

Dikelilingi orang-orang yang menggandrungi sepak bola membuat saya sedikit tergelitik untuk belajar memahaminya. Tanpa sadar, saya makin gencar membuka situs sepak bola, ingin tahu seperti apa strategi permainannya. Saya pun lantas berusaha menggali hal-hal sederhana seputar sepak bola, yang mungkin bisa melibatkan saya.

Misalnya, dengan bertanya seputar makanan yang diinginkan saat menonton pertandingan.

“Maunya yang crunchy.”

“Kenapa?” saya ingin tahu alasannya

“Karena makanan renyah itu bikin enggak ngantuk. Juga bikin nonton tambah seru.”

Baiklah, saya paham sekarang. Menjelang acara akbar World Cup 2014 yang tinggal menghitung hari, saya sudah heboh ikut “menerawang” siapa juaranya. Jadwal pertandingan sudah dipasang di dinding kulkas. Dengan tajam saya memandang garis tebal biru dan merah,... hmm... sepertinya akan ada perlawanan sengit antara kubu jagoan saya dan suami—semoga fair play bisa terjadi. Jauh-jauh hari, suami juga mengingatkan supaya saya mulai menabung jam tidur sebagai amunisi menonton tim jagoan pada subuh hari. Tak ketinggalan, dengan girang saya mulai menyiapkan beberapa resep camilan nan crunchy menyambut World Cup. Ah, rasanya tak sabar menunggu!